Rabu, 13 Januari 2010

UMAR MEMAKAN “TUHAN”

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Apa kabar temen-temen? Semoga tetap semangat dalam belajar ilmu, meskipun penat seharian menghadapi segala macam aktivitas. Kali ini kita akan belajar dari kisah Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, Umar bin Khathab Radhiyallahu ‘anh;

UMAR MEMAKAN “TUHAN”

Seorang sahabat melihat Umar bin Khathab sedang duduk seorang diri. Anehnya sesekali dia terlihat menangis, namun sejurus berikutnya ganti tersenyum. Peristiwa ganjil seperti ini telah dipergokinya beberapa kali. Terlintas dalam pikirannya, mungkinkan Amirul Mu’minin Umar sudah gila? Namun, dalam hati kecil si fulan langsung membantahnya: Tidak mungkin!!!

Didorong rasa penasaran, akhirnya sang sahabat dekat Amirul Mu’minin ini memberanikan diri, menghadap Umar lalu bertanya: “Wahai Amirul Mu’minin, tolong berikan alasanmu, kenapa terkadang engkau tersenyum sendiri, tapi berikutnya engkau ganti menangis?”

Umar tersenyum dan balik bertanya, “Apakah engkau mengamati tingkahku dalam waktu cukup lama?”

Si fulan membenarkan pertanyaan Umar. Umar pun lantas menceritakan apa yang sedang ia pikirkan, sehingga terkadang membuat dirinya tersenyum, namun kala lain justru menangis, “Ketahuilah wahai sahabatku, aku menangis karena dalam benakku teringat akan kekejaman yang kuperbuat pada masa lalu, akibat mengikuti tradisi jahiliah. Aku telah membunuh anak perempuanku, yang oleh tradisi jahiliah dianggap lambang kesialan. Ketika istriku melahirkan, aku sedang berdagang ke luar kota. Aku pulang anakku sudah menjadi putri kecil yang manja dan lucu. Suatu hari, ketika kuajak jalan-jalan, ia minta turun untuk pipis. Saat itulah aku mengetahuinya bahwa dia berkelamin wanita, dan kala itu pula aku menguburkannya,” Umar terdiam sejenak, sedih, dari wajahnya memancarkan penyesalan yang amat sangat dalam, bagai sebuah sumur tak berdasar.

“lantas, kenapa engkau tersenyum, wahai Umar?” Tanya sahabat berikutnya.

“aku tertawa karena teringat kedunguanku ketika belum menjadi muslim. Dengan tanganku, aku mambikin berhala dari gandum, yang lantas aku sembah dan aku puja-puja sebagai dewa. Aku tumpahkan sanjunganku sepenuh hatiku. Aku panjatkan permintaanku sambil menangis pilu. Tapi ketika aku capek berdoa, tatkala lapar mendera, aku mohon maaf lalu memakannya, memakan berhala yang telah kusembah dan kubuat sendiri. Itulah kebodohan yang kala itu tak terpikirkan. Itulah kepandiran yang sering aku tertawakan,” jelas Umar mengakhiri ceritanya, cerita yang memilukan dan pada saat yang sama memalukan.

HIKMAH:

Sejarah hidup jahiliah tadi secara substantive menjelaskan betapa sebuah kepercayaan umum yang menyesatkan, ketika diwarisi secara turun temurun, dan ketika disikapi secara membuta alias taklid, menyebabkan segala kesesatan dan keburukannya menjadi tak terpikirkan, menyebabkan kejatuhan dan kebodohannya tidak terdeteksi. Hanya jiwa yang kritis , akal yang rasional yang dapat menangkap kebenarannya, sehingga siempunya kekritisan-dan-rasionalitas saja yang terhindar dari penyesalan.

Dapat dipahami jika Al-Qur’an berulangkali melontarkan pertanyaan retoris kepada manusia, afalaa ta’qiluun, apakah engkau tidak memakai akal? Segala perbuatan, termasuk dalam ber-ilah hendaknya dilakukan dengan kesadaran akal pikiran yang sebenar-benarnya, bukan hanya dengan mengira-ira dan menduga-duga belaka.

Dapat dipahami pula bila agama menasehati, Janganlah engkau melakukan segala sesuatu yang kamu tidak tahu (tidak mempunyai ilmu) tentangnya. Karena sesungguhnya pendengaranmu, penglihatanmu, serta hatimu akan dimintai pertanggungjawaban.

Wallahu a’lam,
Semoga bermanfaat.

#BERSIHKAN HATI MENUJU RIDHA ILAHI#

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Sumber: Kisah dan Hikmah-1, Dhuroruddin Mashad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar