Selasa, 12 Januari 2010

BELAJAR DARI IMAM SYAFI'I

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Apa kabar temen-temen? Syukur Alhamdulillah semoga Allah Subhanahu wata’ala senantiasa melimpahkan taufiq serta hidayahnya hingga kita tetap semangat dalam menuntut ilmu di jalan-Nya.

Salam dan Shalawat kita persembahkan kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Kekasih Allah, Seorang Nabi yang ummi yang sama-sama kita cintai.

Kali ini kita akan belajar ilmu dari Imam Syafi’i, dialah ulama terkenal yang mazhabnya dianut dan diikuti banyak orang. Beliau adalah abid, zahid, alim dalam ilmu-ilmu akhirat, alim dalam ilmu-ilmu fiqih zahir yang berkaitan dengan kemaslahatan suatu makhluk, ikhlas dalam semua ilmunya, dan merasa cukup dengan ridha Allah Subhanahu wata’ala semata.

Beliau (Imam Syafi’i) menunjukkan keberadaannya sebagai seorang abid adalah bahwa dia membagi malam menjadi tiga bagian: sepertiga untuk ilmu, sepertiga untuk shalat, dan sepertiga untuk tidur.

Rabi’ berkata,”Dia mengkhatamkan Al-Qur’an sekali setiap hari.”

Husain al-Karabisi berkata, “Tidak hanya sekali aku bermalam bersama Syafi’i. Dia biasa melakukan shalat pada malam hari. Dan dia melaksanakan shalat selama (sekitar) sepertiga malam. Aku tidak pernah melihatnya membaca lebih dari lima puluh ayat. Apabila lebih, maka seratus ayat. Dia tidak melewati satu ayat rahmat pun, kecuali dia memohon kepada Allah untuk dirinya sendiri dan untuk seluruh kaum muslimin dan mukminin. Dia tidak melewati satu ayat azab pun , kecuali dia memohon perlindungan di dalamnya dan memohon keselamatan untuk dirinya dan kaum mukminin. Dari itu seolah-olah dia mengumpulkan antara harapan dan ketakutan sekaligus.”

Lihatlah bagaimana dia hanya membaca lima puluh ayat saja. Hal ini menunjukkan bahwa dia menyelami dan merenungkan rahasia-rahasia Al-Qur’an.

Syafi’i berkata, “Aku tidak pernah makan hingga kenyang sejak enam belas tahun yang lalu karena kenyang dapat memberatkan badan, mengeraskan hati, menghilangkan kecerdasan, mendatangkan rasa kantuk, dan melemahkan diri dalam beribadah.”

Lihatlah kearifan Syafi’i dalam menyebutkan dampak negatif terlalu kenyang ketika makan dan kesungguhannya dalam beribadah. Dia meninggalkan kekenyangan demi ibadah. Dan modal ibadah adalah membatasi diri dalam hal makan.

Syafi’i berkata,”Aku sama sekali tidak pernah bersumpah demi Allah Subhanahu Wata’ala baik tulus maupun dusta.”

Suatu ketika, syafi’i ditanya tentang suatu permasalahan, tapi dia diam saja. Lalu seseorang berkata kepadanya, “Tidakkah kamu mau menjawab?” Syafi’i berkata,”Sampai aku tahu apakah keutamaan ada dalam diam atau menjawab suatu pertanyaan.”

Ahmad bin Yahya bin Wazir berkata,”Pada suatu hari, Syafi’i keluar dari pasar lampu dan kami mengikutinya. Tiba-tiba seorang laki-laki mencaci seorang ahli ilmu. Syafi’i menoleh kepada kami dan berkata,’Bersihkanlah pendengaran kalian dari mendengarkan perkataan kotor, sebagaimana kalian mebersihkanya dari mengucapkannya. Sungguh orang yang mendengarkan adalah sekutu orang yang mengucapkan. Dan sungguh, seorang pencaci melihat suatu yang paling buruk dalam bejananya dan ingin menuangkannya ke dalam bejana kalian. Seandainya perkataan seorang pencaci ditolak, niscaya penolaknya akan bahagia, sebagimana pengucapnya akan sengsara.’”

Syafi’i berkata,”Seorang yang bijak berkata kepada rekannya,’Kamu telah dianugerahi ilmu. Karena itu janganlah kamu mengotori ilmumu dengan kegelapan dosa-dosa sehingga kamu akan tetap dalam kegelapan pada hari ketika para ahli ilmu berjalan dengan cahaya ilmu mereka.’”

Tentang kezuhudannya, Syafi’i berkata,”Barang siapa yang mengatakan bahwa dirinya telah mengumpulkan antara cinta kepada dunia dan cinta kepada Pencipta dunia di dalam hatinya maka dia telah berdusta.”

Suatu ketika, cemeti Syafi’i pernah jatuh dari tangannya, lalu seseorang mengulurkan cemeti itu kepadanya. Sebagai balasan, Syafi’i memberikan lima puluh dinar kepada orang itu. Kedermawanan Syafi’i lebih terkenal dari pada matahari.

Salah satu riwayat yang menunjukkan kezuhudannya yang kuat, ketakutannya yang besar kepada Allah Subhanahu wata’ala, dan kesibukan hatinya dengan urusan ahirat adalah riwayat yang mengisahkan bahwa ketika Syafi’i mendengar Sufyan bin Unaiyah meriwayatkan sebuah hadits yang meluluhkan hati, dia langsung pingsan. Dikatan kepada Sufyan, “Dia telah mati.” Sufyan berkata,”Apabila Syafi’i benar-benar mati maka dia mati pada masanya yang paling utama.”

Seorang laki-laki membaca ayat, “Ini adalah hari yang mereka tidak dapat berbicara (pada hari itu) dan tidak diizinkan kepada mereka minta uzur sehingga mereka (dapat) minta uzur.” (al-Mursalat [77]:35)

Syafi’i melihat dengan wajah pucat, kulit berkerut, dan tubuh bergoncang hebat. Kemudian dia jatuh pingsan. Ketika telah tersadar, dia berkata, “Aku berlindung kepada-Mu dari kedudukan para pendusta dan keberpalingan orang-orang yang lalai. Ya Allah kepada-Mu hati orang-orang yang arif merendah, dan kepada-Mu leher orang-orang yang rindu merunduk. Ya ilahii, anugerahkanlah kepadaku karunia-Mu, agungkanlah aku dengan tabir-Mu, dan maafkanlah aku atas kelalaianku dengan kemurahan-Mu.

Adapun pengetahuannya tentang rahasia-rahasia hati, dia menunjukkannya ketika ditanya tentang riya. Dengan spontan dia menjawab,”Riya adalah ujian yang diletakkan oleh hawa nafsu di hadapan mata hati para ulama. Mereka melihat kepadanya dengan pilihan jiwa yang buruk sehingga amal mereka sia-sia.” Dan dia berkata,”Apabila kamu mengkhawatirkan ujub di dalam dirimu maka renungkanlah,’Ridha siapa yang kamu cari? Kenikmatan apa yang kamu inginkan? Hukuman apa yang kamu hindari? Keselamatan apa yang kamu syukuri? Dan bencana apa yang kamu ingat?

Sesuatu yang menunjukkan bahwa dia menginginkan fiqih dan perdebatan demi meraih ridha Allah Subhanahu wata’ala adalah perkatannya,”Aku ingin agar manusia memanfaatkan ilmu ini dan sedikit diantaranya yang dinisbahkan kepadaku.”

Dia juga berkata,”Aku sama sekali tidak berdebat dengan seorang pun, lalu aku menginginkan dia salah. Aku sama-sekali tidak pernah berbicara dengan seorang pun, kecuali aku menginginkan agar dia diberi taufiq, diberi kebenaran, diberi pertolongan, serta mendapat perlindungan dan penjagaan dari Allah Subhanahu wata’ala. Dan aku sama sekali tidak pernah berbicara dengan seorang pun, kecuali aku mengharapkan agar Allah Subhanahu wata’ala menjelaskan kebenaran melalui lidahku atau lidahnya.” (Riwayat Ibnu Hibban)


Wallahu a’lam.
Semoga bermanfaat,

#BERSIHKAN HATI MENUJU RIDHA ILAHI#

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Sumber: Ihya Ulumiddin, Imam Al-Ghazali

1 komentar:

  1. izin co-pas riwayat ibn hibban di bawah ini, terima kasih

    BalasHapus